Makalah Tentang Mesopotamia

Posted by Labels: at
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Mesopotamia terletak di antara dua sungai besar, Eufrat dan Tigris. Daerah yang kini menjadi Republik Irak itu di zaman dahulu disebut Mesopotamia, yang dalam bahasa Yunani berarti "(daerah) di antara sungai-sungai". Nama Mesopotamia sudah digunakan oleh para penulis Yunani dan Latin kuno, seperti Polybius(abad 2 SM) dan Strabo(60 SM-20 M).
Bangsa ini memiliki banyak peninggalan akan kebudayaannya seperti tulisannya, bangunannya, hukum dan juga pertanian dan pengairannya. Banyak hal yang berpengaruh terhadap kebudayaan zaman sekarang.
Tetapi, masih banyak orang yang tidak mengetahui akan peninggalan Mesopotamia dan juga pengaruhnya terhadap kebudayaan zaman sekarang. Berdasarkan permasalahan itu, penulis akan menjelaskan segala sesuatu tentang kebudayaan Mesopotamia yang dirasa perlu untuk diketahui oleh pembaca.

1.2 Rumusan Masalah
a.    Apa saja macam-macam hasil kebudayaan Mesopotamia ?
b.    Apa ciri-ciri dari kebudayaan Mesopotamia ?
1.3 Tujan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
a.    Agar pembaca mengetahui macam-macam kebudayaan Mesopotamia
b.    Lebih mengenal ciri-ciri kebudayaan Mesopotamia

1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah ini adalah :
a.    Bagi Penulis
Penulis menyadari bahwa sebaiknya kita juga mengetahui kebudayaan Negara lain, Oleh karena itu, penulis dapat menemukan sekaligus memberikan  informasi kepada para pembaca yang ada di Indonesia mengenai kebudayaan Mesopotamia .
b.    Bagi Pembaca
Pembaca dapat memperluas pengetahuan mengenai kebudayaan Mesopotamia.

BAB II

PEMBAHASAN MASALAH

HASIL KEBUDAYAAN MATERIAL MESOPOTAMIA

2.1. Penduduk dan Masyarakat
Daerah-daerah di sekitar daerah Mesopotamia didiami oleh bangsa-bangsa yang termasuk rumpun bangsa Semit. Kehidupannya bersifat seminomaden. Aktivitas perdagangan melalui Sungai Eufrat dan Tigris.Sekitar tahun 3000 SM, daerah Mesopotamia didiami oleh bangsa Sumeria. Orang-orang Mesopotamia lebih banyak bertempat tinggal pada kota-kota besar dan juga pada ibu kotanya yang bernama Uruk (Ur).
Kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di Mesopotamia antara lain sebagai berikut.
1.    Kerajaan Sumeria (3500 SM)
2.    Kerajaan Akkad (2300 SM)
3.    Kerajaan Babylonia Lama (1850 SM)
4.    Kerajaan Assyria (Assur)
5.    Kerajaan Babylonia (Baru) atau Chaldea (612 SM)
6.    Kerajaan Persia (539 SM)

2.2 Pertanian dan Pengairan
Pada musim hujan (dari bulan Oktober-April) di Mesopotamia terjadi air bah dari kedua sungai itu. Air menggenangi daerah di sepanjang aliran sungai dan setelah surut meninggalkan lapisan lumpur yang sangat subur. Di daerah-daerah itulah masyarakat hidup dengan bercocok tanam atau bertani.Bangsa-bangsa di Mesopotamia sudah mampu menanggulangi masalah banjir, dan memanfaatkan airnya untuk keperluan pertanian. Caranya ialah membuat sistem pengairan yang baik. Bendungan dibangun dan telaga buatan digali untuk menyalurkan dan menyimpan air yang berlebihan di masa banjir.
Ciri-ciri: Peradaban lembah Sungai Eufrat dan Tigris- Mesopotamia berasal dari kata mesos = tengah dan potamas = sungai. Mesopotamia artinya daerah yang terletak di antara dua sungai, yakni Eufrat dan Tigris. Sumber air kedua sungai itu dari Pegunungan Armenia (Turki), mengalir ke arah tenggara menuju Teluk Persia. Daerah-daerah yang terletak di sepanjang Sungai Eufrat dan Tigris, merupakan daerah yang subur. Karena bentuknya seperti bulan sabit, maka daerahnya disebut The Fertille Crescent Moon.
2.3 Pakaian
Kaftan merupakan pakaian untuk orang-orang Mesopotamia Kuno yang digunakan di seluruh daratan Timur Tengah. Pemakaian kaftan pertama kali berhasil ditemukan di catatan sejarah Mesopotamia. Awalnya, orang-orang Mesopotamia ini menggunakan kulit hewan. Tapi setelah penemuan proses pengolahan kapas dan serat linen (flax) pada tahun 700 SM, mereka mulai menggunakan kain sebagai bahan pakaian. Desain pakaiannya pun bisa dibilang sederhana. Mereka menyatukan sisi samping bahan, menyisakan bagian atasnya untuk memasukkan kepala dan bagian bawahnya tidak dijahit untuk tempat keluar kaki. Desain pakaian seperti inilah yang menjadi cikal-bakal kaftan. Untuk aksesoris, mereka biasanya menggunakan ikat pinggang. Untuk perempuannya, mereka menggunakan shawl yang dililitkan di leher dan dibiarkan menjuntai menutupi dada. Untuk para bangsawan dan keluarga kerajaan, desainnya lebih bagus lagi dengan penambahan perhiasan dan pernak-pernik lain.

2.4. Sistem Tulisan
Salah satu syarat sebuah peradaban adalah sudah mengenal sistem tulisan. Masyarakat Mesopotamia kuno telah mengenal sistem tulisan yang dikenal dengan CUNEIFORM berupa huruf paku dan gambar dimana merupakan representasi dari kegiatan masyarakat, mahkluk hidup berupa flora dan fauna yang terdapat di kawasan Mesopotamia.


Tulisan Cuneiform dipahat diatas lempengan-lempengan yang terbuat dari tanah liat yang tercetak dengan dipress (dicap).  Sistem tulisan Cuneiform diperlukan untuk kegiatan religi, pemerintahan dan perdagangan.
Sistem tulisan ini dipelajari melalui kegiatan edukasi di sekolah yang dilakukan oleh laki-laki Mesopotamia Kuno, dimana jam belajarnya dari matahari terbit hingga matahari terbenam.
Huruf-huruf paku itu antara lain ditemukan pada sebuah prasasti yang berisi tentang hukum dan undang-undang yang berlaku untuk mengatur kerajaan. Undang-undang dan peraturan-peraturan hukum itu disebut dengan Undang-Undang Hammurabi (Codex Hammurabi).Codex of Hammurabi, tertulis dengan cuneiform.

2.5. Kepercayaan
Sistem kepercayaan dan religion yang dianut masyarakat Mesopotamia Kuno adalah dengan menyembah banyak Dewa, berupa Dewa Enlil sebagai dewa bumi dan sekaligus sebagai dewa tertinggi yang menguasai alam semesta, Dewa Enki sebagai dewa air, Dewa An sebagai dewa langit, dan Dewa Samash sebagai dewa matahari. Bagi bangsa Babylonia, mereka percaya dewa tertinggi adalah Dewa Samash, atau lebih dikenal dengan nama Dewa Marduk.
Setiap kota memiliki pelindung sendiri berupa dewa atau dewi yang memiliki segalanya juga semua orang di kota. Semua orang diharapkan untuk menyanyikan lagu pujian, berdoa, berkorban dan membawa persembahan kepada kuil lokal (Ziggurat) untuk para dewa. Orang-orang terpercaya seperti imam dan pendeta di kuil-kuil untuk memberitahu mereka apa para dewa atau dewi inginkan, dan mereka patuh melakukan keinginan mereka. Mereka percaya bahwa dewa bisa kesal pada apa yang Anda lakukan dan menghukum Anda, atau mereka bisa senang dan memberikanmu hadiah. Hal ini membuat pemimpin di kuil-kuil hampir sama kuat dengan raja.


Masyarakat dari Peradapan Mesopotamia, khususnya Bangsa Sumeria membangun kuil-kuil yang megah dan indah di kota-kota mereka agar dewa menyukai mereka. Kuil-kuil tersebut mereka bangun sangat tinggi karena mereka percaya, semakin tinggi kuil semakin dekat mereka dengan dewa. Tinggi kuil-kuil tersebut mencapai 88 meter. Kuil tersebut mereka namakan Ziggurat.
Ziggurat merupakan kuil yang dibangun dengan menara yang disusun berbata-bata dengan tujuan untuk menghubungkan Bumi dan Surga. Tujuan dari pembangunan Ziggurat adalah pusat belajar dan kegiatan agama.
Menara Ziggurat disebutkan sangat besar, struktur piramida dibangun di atas candi yang dibangun. Ziggurat dibangun dari batu bata lumpur dengan 3 sampai 7 level bertingkat. Para Mesopotamians percaya bahwa candi ini dihubungkan piramida langit dan umi. Ziggurat sering dihiasi dengan pilar dan ornamen lainnya. Pada awalnya, acara keagamaan diadakan di kuil. Kemudian, karena kependetaan yang terus berkembang, kuil menjadi pusat agama dan belajar bagi seluruh masyarakat.

Kepercayaan bangsa Sumeria ini terus berkembang dan dianut oleh masyarakat yang tinggal di daerah Mesopotamia. Tetapi ketika bangsa Persia menguasai daerah Mesopotamia, berkembanglah ajaran agama Persia. Kitab Suci Awesta ini merupakan firman-dewa dengan perantara nabi diturunkan kepada bangsa Persia. Pada masyarakat bangsa Sumeria terdapat kepercayaan, bahwa manusia setelah mati akan hilang. Hal ini dijelaskan dalam cerita Gilgamesh. Cerita itu pada hakikatnya mempunyai kesimpulan bahwa hidup abadi di dunia ini tidak ada.
2.6  Bangunan
A. Taman Gantung Babylonia
Taman ini dibangun oleh Nebukadnezar II, cucu Raja Hammurabi sekitar tahun 600 SM sebagai hadiah untuk istrinya yang tercinta. Taman gantung merupakan wujud arsitektur pertamanan khas Mesopotamia, yang telah dikenal rakyat Mesopotamia sejak masa pemerintahan Raja Hammurabi di Kerajaan Babylon lama. Kita dapat melihat di antara bangunan-bangunan kota yang tinggi mencuat di permukaan tanah itulah biasanya ditanami tanaman-tanaman yang indah, sehingga dari kejauhan terlihat seperti taman yang menggantung.
Taman gantung yang dibangun Raja Nebukadnezar II yang puncak kejayaannya sekitar 612 SM, kemudian menjadi sangat terkenal ke seluruh penjuru dunia dan dikagumi rancangannya hingga kini. Taman Gantung Babylon ini kemudian menjadi monumen agung Kerajaan babylon yang tiada duanya. Luas taman ini diperkirakan 4 hektar. Wujud arsitekurnya sangat unik, karena bertingkat-tingkat. Taman ini ditanami berbagai pepohonan indah dan dilengkapi sistem pengairan hingga ketinggian 100 meter di atas permukaan tanah. Dari puncak taman ini dapat disaksikan pemandangan di sekeliling Kerajaan Babylonia.

B. Ziggurat
Bangsa Sumeria percaya bahwa banjir yang ditimbulkan Sungai Eufrat dan Tigris dapat menghancurkan kota kota yang mereka bangun. Untuk itu, bangsa Sumeria membangun kuil-kuil yang megah dan indah di kota-kota mereka agar dewa menyukai mereka. Kuil-kuil tersebut mereka bangun sangat tinggi karena mereka percaya, semakin tinggi kuil semakin dekat mereka dengan dewa. Tinggi kuil-kuil tersebut mencapai 88 meter. Kuil tersebut mereka namakan Ziggurat. Ziggurat adalah monumen besar yang dibangun di lembah Mesopotamia Kuno dan dataran tinggi Iran bagian barat, yang berbentuk piramida berundak yang tersusun atas kisah atau tingkat yang mundur. Terdapat 32 ziggurat di dan dekat Mesopotamia yang diketahui. 28 terletak di Irak, dan 4 ada di Iran. Ziggurat yang terkenal termasuk Ziggurat Besar Ur dekat An-Nashiriyah, Iral; Ziggurat Aqar Quf dekat Baghdad, Irak; Chogha Zanbil di Khūzestān, Iran; Tappeh Sialk dekat Kashan, Iran, yang paling akhir ditemukan


2.7  IPTEK
Matematika Babilonia merujuk pada seluruh matematika yang dikembangkan oleh bangsa Mesopotamia sejak permulaan Sumeria hingga permulaan peradaban helenistik. Dinamai "Matematika Babilonia" karena peran utama kawasan Babilonia sebagai tempat untuk belajar. Pada zaman peradaban helenistik Matematika Babilonia berpadu dengan Matematika Yunani dan Mesir untuk membangkitkanMatematika Yunani. Kemudian di bawah Kekhalifahan Islam, Mesopotamia, terkhusus Baghdad, sekali lagi menjadi pusat penting pengkajian Matematika Islam.
Bertentangan dengan langkanya sumber pada Matematika Mesir, pengetahuan Matematika Babilonia diturunkan dari lebih daripada 400 lempengan tanah liat yang digali sejak 1850-an. Ditulis di dalam tulisan paku, lempengan ditulisi ketika tanah liat masih basah, dan dibakar di dalam tungku atau dijemur di bawah terik matahari. Beberapa di antaranya adalah karya rumahan.
Bukti terdini matematika tertulis adalah karya bangsa Sumeria, yang membangun peradaban kuno di Mesopotamia. Mereka mengembangkan sistem rumit metrologi sejak tahun 3000 SM. Dari kira-kira 2500 SM ke muka, bangsa Sumeria menuliskan tabel perkalian pada lempengan tanah liat dan berurusan dengan latihan-latihan geometri dan soal-soal pembagian. Jejak terdini sistem bilangan Babilonia juga merujuk pada periode ini.
Sebagian besar lempengan tanah liat yang sudah diketahui berasal dari tahun 1800 sampai 1600 SM, dan meliputi topik-topik pecahan, aljabar, persamaan kuadrat dan kubik, dan perhitungan bilangan regular, invers perkalian, dan bilangan prima kembar. Lempengan itu juga meliputi tabel perkalian dan metode penyelesaian persamaan linear dan persamaan kuadrat. Lempengan Babilonia 7289 SM memberikan hampiran bagi √2 yang akurat sampai lima tempat desimal.
Matematika Babilonia ditulis menggunakan sistem bilangan seksagesima (basis-60). Dari sinilah diturunkannya penggunaan bilangan 60 detik untuk semenit, 60 menit untuk satu jam, dan 360 (60 x 6) derajat untuk satu putaran lingkaran, juga penggunaan detik dan menit pada busur lingkaran yang melambangkan pecahan derajat. Kemajuan orang Babilonia di dalam matematika didukung oleh fakta bahwa 60 memiliki banyak pembagi. Juga, tidak seperti orang Mesir, Yunani, dan Romawi, orang Babilonia memiliki sistem nilai-tempat yang sejati, di mana angka-angka yang dituliskan di lajur lebih kiri menyatakan nilai yang lebih besar, seperti di dalam sistem desimal. Bagaimanapun, mereka kekurangan kesetaraan koma desimal, dan sehingga nilai tempat suatu simbol seringkali harus dikira-kira berdasarkan konteksnya.
 
BAB III 

PENUTUP
 
1.    SIMPULAN

Mesopotamia adalah peradaban pertama yang kebudayaannya menjadi dasar bagi kebudayaan peradaban lainnya hingga saat ini. Contohnya, penduduk Mesopotamia sudah mengenal sistem tulisan dan hukum. Mesopotamia juga merupakan peradaban paling maju yang pertama dimana para rakyatnya mampu membuat Bangunan, Pakaian dan juga sangat maju dalam ilmu pengetahuan. Peradaban Mesopotamia juga banyak menyisakan bukti sejarah yang amat kuat tentang bangsa mereka, Taman Gantung di Babylonia bisa menjadi bukti yang sangat kuat yang merepresentasikan bahwa bangsa Mesopotamia amat sangat maju diantara peradaban-peradaban saat itu. Hingga saat ini, Kebudayaan Mesopotamia sedikt banyaknya masih meninggalkan pengaruh dalam kehidupan dimasa ini

Pengaruh peradaban Mesopotamia terhadap kebudayaan masa kini adalah sebagai berikut:
a.    Cuneiform, menjadi dasar bagi berbagai tulisan yang berlaku di dunia modern saat ini.
b.    Kepercayaan pada angka 17 dan 13 berasal dari ajaran agama Phunisia sebagai angka keburuntungan dan angka sial.
c.    Sebagai hukum tertulis pertama di dunia, Codex Hammurabi menjadi dasar bagi berbagai aturan hukum yang berlaku di masa kini.
d.    Untuk menghindari banjir zaman sekarang membuat sistem pengairan yang baik dengan cara membangun bendungan atau telaga buatan untuk menyalurkan dan menyimpan air yang berlebihan di masa banjir.
e.    Kaftan menjadi pakaian khas orang-orang timur tengah dan juga berpengaruh pada industri fashion baik dalam dan luar negeri.


2.    SARAN

Ada baiknya kita mempelajari lebih dalam tentang kebudayaan pada saat peradaban Mesopotamia. Dan juga tentang kemampuan para rakyat Mesopotamia dalam memajukan Mesopotamia. Sisa dan peninggalan budaya Mesopotamia juga sangat banyak mempengaruhi kebudayaan dimasa kini dimana kita juga harus selektif untuk memilih budaya yang baik dan yang tidak.
 
DAFTAR PUSTAKA

http://el-fathne.blogspot.com/2010/05/peradaban-mesopotamia.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Hammurabi%27s_Code
http://id.wikipedia.org/wiki/Hammurabi
http://tutinonka.wordpress.com/2008/12/15/hammurabi-sang-pencipta-hukum/
http://www.erasmatazz.com/TheLibrary/TheMind/HistoryofThinking/AncientCivilization/MesopotamianLaw/MesopotamianLaw.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Laws_of_Eshnunna
http://en.wikipedia.org/wiki/Code_of_Ur-Nammu
http://www.mesopotamia.co.uk
http://irhashshamad.blogspot.com/2009/02/sejarah-tulisan-awal-tradisi-menulis.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Cuneiform


Back to Top